Memenuhi kebutuhan Videography, Photography, Komputer, dan Internet. Visit Us Now!

Loading
Showing posts with label Kunci Perkawinan Bahagia. Show all posts
Showing posts with label Kunci Perkawinan Bahagia. Show all posts

Monday, January 31, 2011

Resep untuk Membahagiakan Suami

VIVAnews - Sejumlah pasangan suami istri mungkin sesekali suka merasa tidak cocok satu sama lain. Dan hal itu sering menimbulkan cekcok dan merasa berat mengatasi masalah rumah tangga, termasuk juga merasa sulit membahagiakan pasangan secara emosional.

Ini menjadi satu di antara banyak alasan, kurangnya kepuasan emosional terutama pada suami. Mungkin benar, pria hanya membutuhkan kepuasan fisik. Dan hal ini, benar-benar membuat banyak wanita cenderung tidak tahu bagaimana memuaskan suami mereka secara emosional. 

Bahkan, pada titik kejenuhan wanita akibat kesibukannya di luar rumah, dan juga mengurus anak, wanita cenderung mengabaikan kebahagiaan suami secara emosional.
Sebagai wanita, mungkin Anda butuh tips ini untuk membahagiakan suami seperti dikutip dari Times of India:


1. Pahami keinginan suami
Memahami keinginan pasangan adalah kunci untuk hubungan yang lebih baik. Psikolog Anjali Chhabria, asal India mengatakan, "Pria biasanya lebih sedikit berkata-kata, jadi belajar untuk memahami apa yang tidak mereka katakan," katanya.
"Perkawinan lebih dari sekedar lembaga suci antara dua orang. Anda harus memahami pasangan Anda. Coba pahami dia, dan membuat dia merasa bahwa Anda peduli tentang dia," tambahnya.


2. Komunikasi
Pria perlu kepuasan emosional seperti manusia lainnya. Oleh karenanya, mereka akan merasa dihargai dan merasa penting jika istri mereka mendengarkan hal-hal kecil yang mereka katakan.
Psikolog Chandni Mehta mengatakan, "Stimulasi emosional sangat penting bagi seseorang untuk tertarik dalam hubungan apapun."Mulailah melakukan komunikasi ringan seperti membicarakan teman-temannya, keluarga, harapan, dan lain-lain. Jangan pernah menempatkan pria hanya sebagai alas atau sebagai pendengar setia dari keluhan Anda. Namun mulai saat ini, jadilah pendengar setia untuk setiap keluh kesahnya.


3. Aspek fisik
Seperti Chhabria mengatakan, perbedaan antara pria dan wanita adalah, bahwa, laki-laki membutuhkan seks untuk cinta dan wanita membutuhkan cinta untuk seks. Aspek fisik sangat penting dan itulah yang membuat perkawinan berbeda dari semua hubungan.
Yah, seperti kita semua tahu, ketika salah satu telah memanjakan dalam mendapatkan fisik dengan seseorang, aspek emosional secara otomatis ikut berperan. Membuat suami Anda merasa bahwa Anda senang dan puas dengan dia secara fisik.

4. Jangan berpura-pura
Jangan pernah berpura-pura di depan suami. Psikolog Varkha Chulani berkata, "Keaslian adalah ikatan pertama dari hubungan emosional. Jika ia melihat Anda telanjang secara fisik, ia juga harus dapat melihat Anda telanjang secara emosional. Iklim kepercayaan dibangun berdasarkan transparansi hubungan. Seharusnya tidak ada manipulasi atau permainan perasaan yang terlibat," ujar Chulani.


5. Beri dia kebebasan
Mencurigai suami terus-menerus bisa membuatnya merasa tak nyaman dan tidak betah berlama-lama di dekat Anda. Biarkan ia tetap sibuk dengan dunia kerjanya, ataupun dengan hobinya dan teman-temannya, asalkan porsi waktu bersama dengan Anda tetap menjadi prioritasnya. Anda tidak perlu melacak keberadaanya setiap waktu selama 24 jam. Berikan kepercayaan padanya dan selalu berfikir positif tentangnya, akan membuat pria merasa lebih dihargai dan membuatnya semakin menyayangi Anda.
Baca Lagi Biar Mantap!

Thursday, January 20, 2011

6 Pilar Penyangga Perkawinan

Di masa pacaran, boleh jadi cinta memang sejuta rasanya. Namun ketika memasuki perkawinan, modal cinta saja tak cukup untuk mempertahankan kelangsungan sebuah keluarga. Dalam mencari pasangan hidup, budaya Jawa mengenal sejumlah kriteria yang dikenal dengan istilah bobot, bibit, bebet. Namun pada kenyataannya, banyak orang beranggapan salah satunya saja sudah cukup memenuhi kriteria pasangan hidup. "Cari pasangan ya lihat pribadinya dong! Punya mobil pribadi, rumah pribadi, dan kalau perlu vila pribadi!" ujar seorang perempuan tanpa maksud bergurau.

"Kalau menurut saya sih, yang penting harus punya tanggung jawab," sela seorang teman bicaranya. "Yang paling penting ya cinta dong!" yang lain menyergah tak kalah semangat.

Sebetulnya apa saja sih pilar penyangga yang kokoh bagi kelanggengan sebuah perkawinan? Benarkah cinta bisa diandalkan? Sepenuhnya ditentukan oleh kelimpahan materi? Bagaimana soal komitmen dan tanggung jawab? Seberapa penting aspek kepribadian kedua belah pihak? Bagaimana dengan hal-hal lain, bisakah diabaikan?

"Proses menimbang-nimbang memang seharusnya sudah dimulai sebelum suami-istri memasuki gerbang pernikahan," kata Titi P. Natalia, M.Psi. Meski ia tak menyangkal banyak pasangan yang tidak "sempat" melewati proses seleksi. Meminjam istilah anak zaman sekarang, ada tahapan yang mesti dilalui, yakni koleksi, seleksi, baru resepsi. Akan tetapi Titi mengingatkan agar kita tidak perlu lagi menoleh ke belakang hanya untuk mempertanyakan apakah tahapan-tahapan tersebut sudah dilalui atau belum. "Sebaiknya lihat saja ke depan. Komitmen dan kesungguhan suami istrilah yang paling dibutuhkan begitu janur kuning sudah dipasang melengkung," tandasnya.

6 Pilar Yang Dibutuhkan
Pilar-pilar yang dibutuhkan demi kokohnya sebuah pernikahan memang tidak sedikit.
Berikut di antaranya:

* Latar belakang keluarga Tak bisa dipungkiri

latar belakang keluarga kedua belah pihak pastilah memegang peran penting. Yang termasuk di sini antara lain suku, bangsa, ras, agama, sosial, kondisi ekonomi, pola hidup dan sebagainya. Namun bukan berarti pasangan dengan latar belakang yang sangat berbeda dan bertolak belakang tidak mungkin bersatu. Hanya saja mereka mesti lebih siap dituntut berupaya lebih keras dalam proses penyesuaian diri.

# Kesetaraan

Kesetaraan akan mempermudah suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Adanya kesetaraan dalam banyak hal dapat meminimalkan friksi yang mungkin timbul. Kesetaraan ini antara lain meliputi kesetaraan pendidikan, pola pikir dan keimanan.

# Karakteristik individu

Setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan ini menjadi salah satu pilar yang menentukan langgeng tidaknya sebuah rumah tangga. Individu dengan karakter sulit yang bertemu dengan individu yang juga berkarakter sulit, tentu lebih berat dalam mempertahankan pernikahannya. Sebaliknya, yang berkarakter sulit bila bertemu dengan pasangan yang berkarakter mudah, tentu proses penyesuaian yang harus dijalaninya bakal lebih mulus.

# Cinta

Jangan anggap sepele kata yang satu ini. Walaupun tidak berwujud, cinta dapat dirasakan. Pernikahan tanpa cinta bisa dibilang ibarat sayur tanpa garam, serba hambar dan dingin. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang mencakup makna melindungi, memiliki tanggung jawab, memberi rasa aman pada pasangan dan sebagainya.

Ada yang bilang, setelah sekian tahun menikah cinta biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sementara yang tersisa tinggal tanggung jawab. Benarkah? "Tidak harus seperti itu karena cinta bisa dipupuk supaya terus subur. Apalagi menjalani tanggung jawab akan terasa lebih ringan kalau ada cinta di dalamnya," ujar Titi. Meski tentu saja, mempertahankan rumah tangga tidak cukup bermodalkan cinta semata!

# Kematangan dan motivasi

Kematangan suami/istri memang ditentukan oleh faktor usia ketika menikah. Mereka yang menikah terlalu muda secara psikologis belum matang dan ini akan berpengaruh pada motivasinya dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Namun usia tidak identik dengan kematangan seseorang karena bisa saja orang yang sudah cukup umur tetap kurang memperlihatkan kematangan.

# Partnership

Pilar rumah tangga berikutnya adalah partnership alias semangat bekerja sama di antara suami dan istri. Tanpa adanya partnership, umumnya rumah tangga mudah goyah. Selain itu perlu "persahabatan" yang bisa dirasakan keduanya. Coba bayangkan, alangkah nikmatnya bila masalah apa pun yang menghadang senantiasa dihadapi bersama dengan seorang sahabat.

Bila Terjadi Kepincangan

Idealnya, ucap Titi, semua pilar tersebut sama-sama ikut menyangga bangunan rumah tangga agar segala sesuatunya menjadi lebih kokoh dan kuat. Namun dalam realitas sering terdapat kepincangan di sana-sini, entah dalam hal motivasi, kesetaraan dan sebagainya. Kalau hal seperti ini yang terjadi, apa yang harus dilakukan?

"Semua terpulang pada tujuan pernikahan itu sendiri. Kalau memang tujuan mereka jelas dan motivasi suami maupun istri kuat, tentu akan ada �usaha� dari kedua belah pihak untuk menyelaraskan semuanya," jawab psikolog yang antara lain berpraktik di Empati Development Center. Keduanya akan bersedia menerima pasangannya, apa pun adanya. "Tapi ingat, menerima di sini bukan berarti pasrah begitu saja lo, melainkan harus ada penyesuaian di sana-sini yang bisa diterima bersama."

Mengarungi biduk perkawinan tanpa masalah memang mustahil karena friksi-friksi sangat mungkin muncul kapan saja dan mencakup aspek apa saja. "Namun sekali lagi kembali pada usaha suami dan istri untuk mempersepsikan perbedaan yang ada. Apakah perbedaan itu akan dibesar-besarkan atau dicarikan jalan keluarnya."

Saat menentukan pilihan mungkin saja calon suami/istri adalah yang terbaik. Namun dalam perjalanan hidup perkawinan mereka, di mata istri atau suami, ternyata pasangannya bukan lagi yang terbaik. Lo, kok bisa begitu? "Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang dinamis. Selalu saja ada perubahan. Oleh karena itulah dibutuhkan kesadaran kedua belah pihak untuk terus-menerus menyesuaikan diri."

Singkatnya, walaupun semua pilar yang disebutkan itu ada dalam rumah tangga, tidak ada jaminan bahwa pernikahan ini akan mulus tanpa batu sandungan. Namun setidaknya dengan adanya pilar-pilar kokoh tadi, suami dan istri akan dipermudah dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Baca Lagi Biar Mantap!

Tuesday, January 18, 2011

Gaya Berkarier untuk Kesuksesan Perkawinan

TEMPO Interaktif, Jakarta - Dengan menerapkan kedua gaya atau pola hubungan ini, Anda bisa menuai keberhasilan di kantor dan di rumah. Percaya atau tidak, ada begitu banyak persamaan yang bisa dimanfaatkan antara pola hubungan dengan atasan di kantor dan pola hubungan dengan pasangan Anda di rumah. Uniknya, bila Anda bisa melakukan hal itu dengan baik, pola ini bisa membantu, baik menavigasikan hubungan untuk hasil kerja yang baik maupun meningkatkan kemesraan kehidupan romantis Anda.

Misalnya saja, dalam bekerja Anda dituntut bersikap sopan santun, punya gairah atau keingintahuan, jujur, dan mau menolong. Hal yang sama pun dibutuhkan dalam menjaga kelanggengan perkawinan.

Jennifer Hirsch, PsyD, psikolog klinis di tempat praktek pribadi di New York dan Washington, DC, mengatakan berpikir sebelum bicara. Maksudnya, sebelum mengungkapkan keberatan atau pembicaraan yang potensial menimbulkan diskusi yang pelik, selalu tanya kepada diri sendiri, "Apa yang akan saya lakukan atau katakan jika hal ini terjadi pada saya?"

Di tempat kerja, Anda tak mungkin bersedia menghadap bos Anda mengajukan permasalahan dengan sikap agresif. Jadi, meski dalam perkawinan dianggap Anda dan pasangan sudah saling mengerti gaya komunikasi masing-masing, sebaiknya tetap berhati-hati. "Jangan buru-buru, hapus dalam pikiran kata-kata kasar dalam ungkapan yang ingin Anda katakan, dan masukkan kata-kata kasih sayang untuk mengungkapkannya," kata Dr Hirsch. Tentu saja kata-kata kasih sayang hanya khusus bagi pasangan Anda, bukan untuk bos.

Sering kali saat suasana tengah memanas karena suatu masalah, kita cenderung mengaburkan masalah sebenarnya dengan masalah-masalah yang lain. "Padahal cara terbaik untuk menyampaikan pesan, baik di rumah maupun di kantor, adalah Anda harus yakin bahwa Anda hanya punya satu fokus masalah yang disampaikan," kata Jess McCann, pelatih kencan dan penulis buku You Lost Him at Hello.

Daripada kelamaan mengungkapkan pendahuluan tentang betapa lelahnya Anda mengurus rumah tangga, mengapa tidak langsung saja pada pokok persoalan. McCann mencontohkan, "Sayang, bisa-tidak nanti tolong jemput sekalian anak-anak di rumah temannya, sambil kau pulang main tenis. Terima kasih, ya."

McCann juga menyarankan jurus "Akupun demikian....". Menurut dia, salah satu saran karier terhebat adalah mengubah pendapat kolega kerja yang keras kepala dengan teknik ini. "Pertama, Anda menggaet perhatian orang lain dengan kata-kata 'Saya tahu apa yang Anda rasakan tentang....'," kata McCann. Lalu bisa dilanjutkan dengan "Saya juga pernah merasa demikian, tapi akhirnya saya temukan bahwa...."

Cara demikian lumayan ampuh untuk menggiring pasangan kita yang sedang berbeda pendapat tentang sesuatu. Pada akhirnya, pasangan Anda mungkin tetap tidak sepakat dengan Anda, tapi setidaknya Anda bisa mencegah pertengkaran hebat.

Kemudian McCann mengatakan bahwa maaf bukan merendahkan diri. "Banyak orang menjadikan harga diri dan ego sebagai batu sandungan dalam karier dan hubungan mereka dengan pasangan," ujarnya. Padahal, kadang cara terbaik untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mengakui kesalahan, meski perkaranya tak melulu menjadi kesalahan Anda.

Di kantor mungkin Anda bersedia pasang badan untuk kesalahan yang dilakukan tim kerja. Tapi hal yang sama bisa dilakukan di rumah. "Mengambil alih tanggung jawab biasanya membuat kita lebih dihormati--terutama dalam hubungan jangka panjang--dibanding sekadar saling tunjuk untuk mencari kambing hitam," McCann memaparkan.

Dr Hirsch mengingatkan soal memperhatikan nada bicara. Ada pepatah lama yang mengatakan, "Masalahnya bukan pada apa yang Anda katakan, melainkan bagaimana Anda mengatakannya." Hal ini berlaku pula di rumah maupun di kantor. Dalam sebuah rapat yang memanas, orang akan banyak menilai Anda dari mampu-tidaknya Anda mengendalikan nada suara Anda.

Demikian juga saat di rumah. "Jadi saat di rumah hapus semua energi dari suara Anda saat hendak mengutarakan sesuatu yang penting," katanya. Dr Hirsch meminta, cobalah berandai-andai Anda sedang berhadapan dengan bos Anda di mana tak mungkin Anda menggunakan suara tinggi atau keras yang bisa mengejutkan anak-anak.

Jikapun Anda sedang marah kepada pasangan Anda, beri kesempatan dia memahami apa substansi masalahnya, bukan sekadar betapa menggelegarnya suara Anda.

Dr Hirsch mengingatkan poin penting, "Jadilah orang yang berkelas." Menurut dia, orang-orang yang tidak berkomunikasi dengan cara yang berkelas tak pernah cukup beruntung untuk menduduki jabatan tinggi. Memang karier yang sukses itu adalah hasil dari perjalanan panjang dari sikap yang berkelas dan penampilan sebagai pribadi yang bukan pemaksa.

Misalnya saja Anda menduga bos Anda mencuri ide Anda, atau Anda menduga pasangan Anda didekati pihak yang bisa meruntuhkan keutuhan perkawinan Anda. Bersikaplah berkelas dengan tidak langsung mengajukan tuduhan. "Beri mereka pelajaran dengan membiarkan mereka menyadari kesalahan sambil memberi mereka petunjuk bahwa Anda sebenarnya tahu apa yang mereka lakukan," kata Dr Hirsch. "Inilah jalan panjang yang dilalui yang justru membuat Anda semakin dihormati."

Poin terakhir adalah janji yang kecil dan pemenuhan yang sempurna. Menurut McCann, di dunia kerja, saat berhadapan dengan klien, hal ini biasa dilakukan. Daripada menjanjikan sesuatu yang besar yang akhirnya tak bisa dipenuhi, lebih baik membuat janji kecil dengan penunaian melebihi harapan klien. Hal yang sama berlaku dalam hubungan perkawinan. "Bila Anda menjanjikan sesuatu yang besar kepada pasangan, Anda berisiko besar mengecewakannya saat tak bisa memenuhi janji itu," ujarnya.
Baca Lagi Biar Mantap!

Tuesday, January 11, 2011

Tips Mengatasi Konflik Menjelang Pernikahan

Konflik menjelang pernikahan kerap terjadi menimpa pasangan. Selain berdebar-debar menantikan pesta pernikahan, pasangan yang akan menikah pasti juga stress mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan nanti. Semuanya ingin agar berjalan sempurna, sehingga tak jarang timbul berbagai konflik. Untuk mengatasinya ada beberapa solusi seperti di bawah ini.

1. Impian pesta sempurna
Pesta penikahan berjalan sempurna adalah impian semua perempuan. Namun, reaksi beberapa calon pengantin akan hal ini terkadang berlebihan. Mereka merasa harus mengatur sendiri semua detail pesta agar berjalan sesuai rencana.
Solusi: Tak ada yang sempurna di dunia ini. Jika Anda mencoba mewujudkannya dengan cara yang kontroversial dan penuh emosi, Anda malah kehabisan tenaga dan bisa kehilangan hubungan baik dengan beberapa pihak.

2. Harus menyenangkan orang lain
Faktor budaya juga membuat calon pengantin merasa harus menyenangkan semua orang dengan pesta pernikahan yang akan dibuat, termasuk si dia, orangtua, dan para undangan. Meski pernikahan seharusnya jadi saat berharga milik Anda dan pasangan, biasanya banyak yang ingin memberi saran.
Solusi: Untuk masalah ini, Anda memang harus sedikit bersabar. Pernikahan tak hanya momen istimewa bagi Anda dan pasangan, tapi juga untuk orang-orang di sekitar Anda (baca: keluarga besar). Walaupun Anda ingin pesta berjalan sukses seperti yang Anda inginkan, hubungan dengan kerabat dan keluarga dekat tetap perlu dijaga. Terima saran-saran yang memang masuk akal. 

3. Diet
Penampilan sempurna di hari pernikahan adalah impian perempuan. Itu sebabnya, mereka berusaha mencapai berat badan ideal. Yang membuat para calon pengantin pria kesal adalah mereka pun kena imbasnya karena dipaksa diet.
Solusi: Boleh saja tampil sempurna, tapi sebaiknya tidak dengan cara memaksa. Jika ingin berhasil membuatnya menurunkan berat badan, ajak si dia olahraga bersama. Katakan saja ini untuk menjaga stamina menjelang hari pernikahan dan persiapan malam pertama.

4. Dana
Biaya resepsi pernikahan memang kian mahal. Meski anggaran sudah ditetapkan, sering kali meleset. Apalagi jika Anda tergoda menambah item-item untuk menyempurnakan pesta. Akhirnya dana kurang dan Anda stres.
Solusi: Memang tak salah jika Anda berkeinginan membuat pesta yang wah. Namun, jangan lupakan ketersediaan dana. Banyak orang, mungkin termasuk Anda, akhirnya terpaksa meminjam uang kepada orangtua atau malah bank untuk menambah jumlah dana. Hati-hati utang yang kian bertambah bisa menjadi masalah di kemudian hari.

RELATED LINKS KLIK HERE
Baca Lagi Biar Mantap!

Sunday, October 17, 2010

10 KUNCI PERKAWINAN BAHAGIA

Perkawinan merupakan wujud menyatunya dua sejoli ke dalam satu tujuan yang sama. Dan salah satu tujuan perkawinan adalah mencapai kebahagiaan yang langgeng bersama pasangan hidup. Namun, jalan menuju kebahagiaan tak selamanya mulus. Banyak hambatan, tantangan, dan persoalan yang terkadang menggagalkan jalannya rumah-tangga. Nah, bagaimana kita mengantisipasi supaya mahligai rumah-tangga kita tidak goyang? Inilah 10 tips menuju perkawinan yang bahagia.

1. Cinta
Cinta merupakan energi yang dahsyat untuk mengembangkan dan menyempurnakan kepribadian Anda dan suami. Cinta akan membantu membuang semua rintangan yang muncul di tengah perjalanan rumah tangga. Perkawinan yang dibangun tanpa landasan cinta sebetulnya adalah omong-kosong belaka. Meski bukan satu-satunya syarat, cinta sangat berperan dalam membangun perkawinan yang langgeng. Maka, cinta dalam perkawinan adalah sesuatu yang mutlak dan harus.

2. Seiman
Cinta saja tentu belum cukup untuk menciptakan perkawinan yang bahagia. Prinsip memilih suami yang seiman juga merupakan salah satu kunci dalam mencapai kebahagiaan rumah tangga. Memang, banyak pula pasangan suami-istri beda agama yang juga bisa bahagia menjalani perkawinannya. Namun, sebaiknya jangan anggap enteng soal satu ini. Bisa-bisa, Anda dan suami akhirnya jalan sendiri-sendiri, sesuai iman masing-masing. Belum lagi kehadiran anak. Persoalan agama apa yang akan dianut anak seringkali juga memicu perdebatan yang panjang.

3. Saling percaya
Tanpa rasa saling percaya antara pasangan suami-istri, perkawinan tentu tak akan berjalan mulus. Rasa saling percaya akan mengantarkan Anda pada perasaan aman dan nyaman. Kuncinya, jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami Anda. Istri tak perlu mencurigai suami, dan sebaliknya, suami juga tak perlu mencurigai istri. Membangun rasa saling percaya juga merupakan perwujudan cinta yang dewasa.

4. Seks
Perkawinan tanpa seks bisa dibilang seperti sayur tanpa garam. Hambar. Ya, seks memang perlu. Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan hidupnya. Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi Anda berdua.

5. Ekonomi
Hampir sebagian besar waktu dalam keluarga dewasa ini, khususnya pasangan suami-istri muda perkotaan, adalah untuk mencari nafkah. Artinya, tak bisa dipungkiri bahwa faktor ekonomi tak bisa dianggap remeh. Bayangkan, apa yang bakal terjadi seandainya rumah tangga tak didukung oleh topangan ekonomi yang memadai. Mengatur ekonomi secara benar juga akan memberikan perasaan aman dan bahagia.

6. Kehadiran anak
Anak adalah karunia Illahi yang tak terkirakan nilainya. Perkawinan tanpa kehadiran anak seringkali memicu persoalan tersendiri. Banyak keluarga atau pasangan suami-istri yang sulit mendapatkan anak dan mati-matian berupaya dan berikhtiar agar mempunyai keturunan. Kehadiran seorang anak juga membuat suami-istri memiliki keterikatan dan tanggung jawab untuk membesarkan, merawat dan mencintai bersama-sama

7. Hindari pihak ketiga
Kehidupan perkawinan merupakan otonomi tersendiri, yang sebaiknya tak dicampuri oleh pihak lain, apalagi pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur tangan atau mempengaruhi dan masuk ke wilayah otoritas keluarga, bisa menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Banyak contoh keluarga yang hancur gara-gara pihak ketiga ikut main di dalamnya. Entah campur tangan mertua, saudara ipar, kekasih simpanan, tetangga, dan sebagainya.

8. Menjaga romantisme
Terkadang, pasangan suami-istri yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Tak ada kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun seperti barang mahal. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka berpacaran. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda.

9. Komunikasi
Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tanga. Bagaimana mungkin hubungan Anda dengan suami akan mulus jika menyapa pun Anda enggan. Jika rumah tangga adalah sebuah mobil, maka komunikasi adalah rodanya. Tanpanya, tak mungkin rasanya rumah tangga berjalan.

10. Saling memuji dan memperhatikan
Meski sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya bagi suami, dan sebaliknya. Ucapan bernada pujian akan semakin memperkuat ikatan suami-istri. Tanpa pujian atau perhatian, bisa-bisa yang ada hanya saling mencela dan merendahkan. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai. Memuji tak butuh biaya atau ongkos mahal, kok. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada suami.

Anda juga dapat membaca artikel ini disini: KLIK DISINI
Baca Lagi Biar Mantap!