Memenuhi kebutuhan Videography, Photography, Komputer, dan Internet. Visit Us Now!

Loading
Showing posts with label Cara Mendidik Anak. Show all posts
Showing posts with label Cara Mendidik Anak. Show all posts

Thursday, March 31, 2011

Jenis-jenis Pola Asuh Anak

Kehadiran anak dalam kehidupan berkeluarga sangatlah dinantikan. Karenanya tidak salah jika anak selalu dimanja, terutama anak pertama.
Tak dapat dipungkiri, pola asuh memberi yang diterima seorang anak akan sangat berpengaruh terhadap karakter atau kepribadian si anak dalam lingkungan sosialnya.

Oleh sebab itu, Anda selaku orangtua harus pintar memilih dan menerapkan pola asuh terbaik untuk
LinkScanner Pro - Keep your surfing safe anak-anak agar kelak si anak menjadi sosok yang sesuai dengan keinginan Anda. Salah memilih pola asuh bisa membuat anak Anda tidak nyaman, memiliki perbedaan prinsip, menjadi pembangkang, bahkan bisa membuat si Anak menjadi seseorang yang salah jalan.

Dikutip dari AnneAhira.com dijelaskan ada 4 jenis pola asuh anak yang mungkin diterapkan orangtua, yakni:

1. Pola Asuh Permisif
Orangtua dengan pola asuh seperti ini biasanya memberikan kebebasan pada anaknya. Kontrol terhadap anak-anak sangat longgar, bahkan ketika si anak dalam keadaan bahaya sekalipun orangtua dengan pola asuh ini jarang memperingatkan apalagi menegur. Namun, sikap hangat yang dimiliki orangtua dengan pola asuh ini seringkali membuat si anak suka.

2. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah sebuah pola asuh anak yang menerapkan kepentingan si anak sebagai prioritas utama, namun tidak akan ragu-ragu untuk mengendalikan dan mengaturnya. Mereka, para orangtua dengan pola demokratis selalu bersikap rasional dan mendasari segala tindakannya berdasarkan pemikiran-pemikiran atau rasionya.
Orangtua yang menggunakan pola asuh seperti ini cenderung bersikap realistis terhadap segala hal yang dilakukan anak, terlebih dalam urusan kemampuan. Mereka memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk melakukan sesuatu, namun dengan tetap memberikan pengawasan dan melakukan pendekatan secara hangat.

3. Pola Asuh Otoriter
Orangtua yang menerapkan pola asuh ini cenderung statis. Artinya, apa-apa yang mereka inginkan harus dituruti oleh sang anak. Mereka tak segan segan memaksa dan menghukum si anak jika keinginannya tidak dituruti. Tak ada kompromi bagi orangtua dengan pola asuh ini, komunikasi pun hanya berjalan satu arah

4. Pola Asuh Penelantar
Pola asuh yang seperti ini lebih banyak dipakai oleh orangtua yang cenderung mengalami depresi. Waktu dan biaya yang diberikan pada si anak cenderung sangat minim. Mereka akan acuh meski anaknya membutuhkan sesuatu. Mereka akan sibuk dengan urusan pribadinya.

Itulah beberapa pola asuh orangtua yang mungkin diterapkan pada anaknya. Nah, bagaimana dengan Anda? Mana pola asuh yang Anda terapkan pada si anak?

Berbagai sumber | Global

Baca Lagi Biar Mantap!

Sunday, March 27, 2011

Walau Kerja, Pendidikan Anak Tetap Tanggung Jawab Ibu

Kini ibu bekerja semakin banyak. Kenapa ibu bekerja? Salah satu jawabannya untuk membantu perekonomian rumah tangga. Ada juga ibu yang bekerja lantaran dirinya adalah seorang yang terpelajar dan berpendidikan tinggi. Alangkah sayangnya ilmu yang diperolehnya tidak dibaktikan untuk masyarakat di sekitarnya karena seorang ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat.

Ibu juga bagian dari penopang ekonomi keluarga, berapa banyak suami dan keluarga yang terbantu karena istrinya bekerja. Namun, karena kewajiban mencari nafkah ada di pundak suami, ibu juga harus menyadari tanggung jawabnya.

Tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya. Jangan sampai dengan menjadi ibu bekerja, kita menelantarkan anak-anak kita. Semua yang kita lakukan untuk anak-anak kita, termasuk saat bekerja di luar rumah. Kuncinya adalah mengontrol dengan baik semua bentuk aktivitas dan waktu kita. Anak-anak harus tetap menduduki prioritas utama.
TotalShredderâ„¢ USB
Banyak hal positif yang bisa kita berikan pada anak, saat kita menjadi ibu bekerja. Tentang hal-hal yang dikerjakan di luar rumah, tentang penghasilan yang diperoleh, tentang banyaknya orang yang bisa terbantu, tentang ternyata ibunya bermanfaat untuk banyak orang.

Namun, apabila dengan bekerja kita jadi mengenyampingkan anak-anak kita, mungkin ada yang harus diintrospeksi. Semoga selalu dan harus bisa menomorsatukan anak-anak dan keluarga saat kita memutuskan untuk bekerja di luar rumah.

Berbagai sumber | Global

Baca Lagi Biar Mantap!

Thursday, March 3, 2011

Suami Enggak Kompak Saat Mengasuh Anak

Semakin banyak perempuan yang bekerja di luar rumah, sehingga tugas pengasuhan anak dibagi berdua dengan suami. Berbagi tugas penting dilakukan, meskipun Anda seorang ibu rumah tangga, karena bagaimanapun akan lebih baik bila ayah terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak.

Menurut Kyle D Pruett, MD, profesor klinis Child Psychiatry and Nursing di Yale School of Medicine dan penulis buku Partnership Parenting, perilaku anak dan prestasi akademiknya akan lebih baik jika si ayah ikut terlibat dalam hidupnya. Sementara si ibu biasanya juga akan lebih terikat secara emosional dengan pasangannya bila pasangan mampu menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.
LinkScanner Pro - Keep your surfing safe
Yang menjadi masalah adalah ketika ayah dan ibu memiliki gaya pengasuhan yang berbeda. Umumnya yang terjadi, ibu bersikap tegas pada anak, sedangkan ayah cenderung bersikap lunak atau serbaboleh. Atau, suami menerapkan gaya pengasuhan yang didapatnya dari orangtuanya dulu, padahal Anda tidak menyukai gaya tersebut. Tak heran, Dr Pruett mengatakan, "Karena itu, berbagi tugas pengasuhan itu bisa menyenangkan, tapi juga menantang."

Anda dan suami tak boleh menyerah dan terus bertengkar mengenai perbedaan ini. Anda berdua bertugas untuk memadukan latar belakang dan gaya pengasuhan yang berbeda tersebut, sehingga anak tumbuh dalam suasana rumah yang harmonis.

"Sebaiknya, ayah dan ibu saling ngobrol lebih dulu, bagaimana pengalaman mereka bisa berguna saat mereka menjadi orangtua, baik dengan anak maupun satu sama lain. Kebanyakan orangtua menghabiskan banyak waktu untuk memilih kertas dinding di kamar anak daripada mendiskusikan topik-topik yang berkaitan dengan perkembangan anak," tutur Dr Pruett. Contohnya, apakah anak perlu ditemani tidur, apakah bisa dititipkan ke tempat penitipan anak saat kedua orangtua bekerja, atau bagaimana cara meredakan tangis bayi.

Berbeda itu baik
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa pasangan yang meluangkan waktu untuk membicarakan masalah pengasuhan sebelum anak lahir akan tetap tenang daripada pasangan yang tidak membahas secara terbuka sebelumnya. Anda akan memetik manfaat dari komunikasi terbuka ini ketika Anda dan suami melihat perbedaan nyata dalam gaya Anda mengasuh anak. Entah itu terjadi ketika anak baru lahir, bertumbuh menjadi balita, dan selanjutnya.

Dr Pruett mengatakan bahwa ia juga sering mendengar nasihat dari neneknya, bahwa suami dan istri harus kompak dalam mengasuh anak. "Jujur saja, itu tidak mungkin. Kita kan dua orang yang berbeda. Pola pengasuhan kita sangat tergantung dari pengalaman dengan keluarga kita sendiri, jenis kelamin, dan kepribadian kita. Anda tak mungkin bisa kompak terus-menerus!" tukasnya.

Mengasuh dan membesarkan anak dengan cara yang sama sepanjang waktu mungkin saja ideal, namun Dr Pruett mengingatkan bahwa anak-anak justru akan mengambil manfaat dari gaya pengasuhan yang berbeda. Ia menggambarkan bahwa pengasuhan adalah sebuah kerja tim. Kuncinya adalah mendukung pasangan saat di depan anak, dan tetap terbuka dengan pasangan. Bicarakan apa yang sangat penting bagi Anda ketika sedang bersama suami.

Contoh yang paling mudah, apa yang harus dilakukan bila anak mogok makan? Para ayah biasanya akan membiarkan, karena berpikir anak pasti akan meminta sendiri makanannya bila memang sudah lapar. Tetapi para ibu biasanya tidak bisa menerima hal ini. Ketika anak mogok makan bila tak ada fast food, lalu ayah cenderung mengabulkan permintaannya sedangkan Anda terus membujuknya untuk mengonsumsi apa yang ada di rumah, nah... anak akan melihat Anda sebagai sosok antagonis. Di sinilah Anda perlu menjelaskan pada suami, apa pentingnya bila anak mengonsumsi makanan yang lebih sehat. Pertimbangan yang lebih penting, apa manfaatnya bila bersepakat dalam mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh untuk anak. Sedangkan untuk hal-hal yang sifatnya kurang prinsip, lebih baik berkompromi saja.
VirtualDrive® 14 Pro
Jika Anda memberikan upaya yang berarti ke dalam pengasuhan dan selalu membahasnya bersama pasangan, kelak si kecil akan mengambil manfaatnya. Ia akan belajar dari Anda berdua, bahwa perbedaan itu baik dan tak perlu dihindari. Lagipula, dunia akan membosankan jika kita semua selalu sama bukan?

Baca Lagi Biar Mantap!